BEPPANAH (20 MARET 2018) : HARSH MEMINTA PADA DOKTER UNTUK MEMPERCEPAT OTOPSI, ADITYA MENCOBA UNTUK MEMBERITAHU ZOYA BAHWA NATARA ISTRINYA DAN SUAMINYA TELAH BERSELINGKUH, NAMUN ZOYA TETAP MEMPERCAYAI YASH, ZOYA MENAMPAR ADITYA DAN SYOK
![]() |
| BEPPANAH EPISDE 2 SINOPSIS BY MADE TITIS MAERANI |
Index Film : Di rumah sakit, Aditya dan Zoya bergumul dengan kenyataan bahwa pasangan mereka berselingkuh. Sementara Aditya menghubungkannya dengan perilaku lugu ayahnya, Zoya menolak untuk percaya bahwa Yash bisa mengkhianatinya. Akankah laporan dokter mengungkapkan kebenaran? Pantau terus untuk mencari tahu.
Aditya dan Zoya
mendapatkan telepon yang sangat mengejutkan, mereka datang ke tempat kecelakaan
yang telah menewaskan nyawa Yash dan Puja. Zoya menyingkirkan kepala Yash dari pangkuannya, ia telihat kebingungan dan
meneteskan air mata, ementara itu Aditya menangis dengan penuh amarah. Seorang
polisi berbicara kepada temannya “ketika kami menemukan jasad, keduanya saling
berpegangan tangan.., aku merasa mereka harus menjadi suami dan istri”.
Temannya berpendapat “tidak, mereka
berdua pasti berselingkuh”. Aditya bangkit saat mendengar ucapan yang tidak
mengenakan, ia melangkah mundur, Zoya memperhatikannya.
Seorang pria
petugas mendis berkata kepada teman di sampingnya “aku pernah merlihat mereka
sebelumnya, kau pasti pernah melihat mereka berkeliling bersama, ada tempat di
Mussorie dimana pasangan kekasih sabgat terkenal”. Zoya dan Aditya merasa
sangat buruk, Aditya terus menatap
tangan Yash dan puja yang saling menggenggam satu sama lainnya, ia mengingat
semua kata-kata Puja sebelum ia pergi meninggalkannya, saat Puja berkata pada
suaminya Aditya “tidak seorang pun di dunia ini
mau berbagi segalanya dengan orang lain., dan jika orang itu mengatakan
demikian, maka dia adalah seorang
pembohong yang sangat besar”. Aditya terus melangkah mundur, ia hamppir sampai
di tepian jurang dan Aditya masih berdikir tentang pernikahan antara dirinya
dengan Puja dan suara itu terus mengiang di telinga Aditya bahwa antara Yash
dan puja telah berselingkuh dan harus
menjadi pasangan suami dan istri. Aditya berdiri dan berbalik tepat di tepian
jurang saat itu, Zoya bertanya-tanya “mengapa mereka saling berpegangan
tangan?” .. tolong psiahkan tangan mereka!”.., mengapa mereka saling
berpegangan tangan?”. Zoya mencoba melepaskan genggaman tangan Yash dan juga
Puja yang telah menjadi kaku, Zoya berkata “tolong pisahkan tangan mereka”. Dan
usaha Zoya untuk memisahkan tangan Yash dan puja pun akhirnya sia-sia.
Zoya memriksa
tangannya dan menyadari saat melihat jarinya “Cincin ku?”. Ia teringat saat
mendapatkan cincin itu ketika sedang memberskan pakian Yash, kotak dari cincin
itu terjatuh dan Zoya sangat senang, ia datang menemui Yash saat itu. Zoya mulai panik
dan mencari cincinya disekitar jenazah
Yash dan Puja, Zoya berkata “dimanakah cincin ku?”.., Ysh telah memberikan ku
sebuah cincin”. Aditya hanya terdiam dan berdiri menjauh di antara kedua jenazah tersebut, namun Zoya masih mencari
cincin berliannya yang telah hilang. Adi menatap langit saat kilat petir sangat
terang dan cuaca kemudian menjadi sangat buruk, hujan pun turun membasahi tanah.
Seorang petugas polisi meminta “bawalah jenazah ke ambulan dengan cepat”. Zoya
masih bertanya-tanya “dimanakah cincin ku?” dan petugas mengangkat kedua
jenasah itu ke ambulan. Aditya menemukan cincin berlian Zoya di dekatnya dan
mengambilnya, Zoya pun datang saat akan mengambilnya namun cincin itu sudah di
tangan Aditya. Mereka mengingat pertemuan mereka di toko dan berebutan hadiah
untuk orang dan hari yang sangat istimewa untuk pasangan mereka masing-masing,
dan Adita kemudian merebut membawa lari hadiah milik Zoya dan Zoya berusaha
untuk mengejar Aditya untuk mendapatkan hadiahnya. Zoya menatap cincin di
tangan Aditya, seorang petugas berkata “dengarkanlah, kalian berdua duduklah di
ambulan, Zoya kesal dan merampas cincin berlian miliknya dari tangan Adotya dan
mereka pun bertatapan. Zoya memegang cincinnya dengan sangat erat.
Hujan terus
mengguyur, ambulan dalam perjalanannya menuju ke rumah sakit. Sementara itu
seorang polisi sedang bertanya kepada aytasannya “Pak, ini adalah kasus
kecelakaan.., kecelakaan itu mungkin saja terjadi karena kabut”. Atasannya
mengatakan “ semua insiden / kecelakaan
memang tampak seperti kecelakaan pada awalnya, kita harus melanjutkan penyelidikan
kita.., keduanya telah menikah dan mereka berselingkuh dan menghiyanati
pasangan mereka masing-masing, bahkan aku sama sekali tidak tahu apa yang
sebenarnya terjadi, tapi tetaplah mencari, kita mungkin akan menemukan beberapa
petunjuk. Mereka setuju dengan pendapat atasan mereka.
Zoya dan Aditya
duduj di ambulan yang sama di samping jenazah pasangan mereka masing—masing.
Aditya kesal menatap jenazah Yash dan Puja, angina kembali membuka kain putih
dan kedua tangam mereka yang saling bergandengan tangan kembali terlihat oleh
Aditya, Adita menangis dan memalingkan wajahnya, lalu kemudian Zoya hanya
terdiam menatap wajah Yash dan memegangi cincinnya. Aditya pun menatap Zoya
dengan amarah dan kembali melihat kedua
tangan Yash dan Puja yang saling bergandengan tangan, Aditya kembali membuang
pandangannya dan berkata “hentikan saja ambulannya, buka pintunya”. Zoya
bertanya pada Aditya “apa yang sedang kau lakukan?”. Aditya mengatakan “aku
harus turun, bukakan pintunya!”. Zoya meminya petugas untuk menghentikan
Aditya. Aditya bangkit dan mendekati pintu ambulan, Zoya bertanya “apa yang
akan kau lakukan?”. Sipir menghentikan ambulan dan Aditya turun dari sana,
petugas bertanya pada Aditya yang sudah turun dari mobil ambulan “apakah kau
tidak ingin pergi kerumah sakit?”. Aditya telah berdiri di luar saat hujan
masih sangat deras, petugas menyarankan agar Aditya kembali masuk ke mobil
ambulan, Aditya menatap Yash dengan penuh kemarahan dan kebencian, petugas
meminta aditya masuk kembali namun Zoya menyarankan pada petugas untuk segera
menutup pintu mobil. Mobil ambulan kembali melanjutkan perjalanannya dan Zoya
menatap Aditya yang berdiri di luar, mobil ambulan semakin jauh dan Aditya
begitu sangat marah saat melihat jenasah puja dan Yash saling mengenggam satu
sama lain.
Akhirnya, mobil
ambulan tiba di rumah sakit. Petugas berkata kepada petugas lainnya untuk
mengambil tandu dan mereka membuka pintu ambulan, Zoya menatap kedua tangan
Yash dan puja yang saling bergandengan tangan dan menggenggam satu sama lainnya
dan berkata pada petugas “sebentar”. Zoya kembali untuk melepaskan tangan Yash
dari Puja, dokter datang menemui Zoya dan menjelaskan “itulah yang di sebut
dengan rigor mortis”.., tubuh sesorang
akan menjadi kaku setelah kematian, sekarang tidak akan mudah untuk memisahkan
tangan mereka”. Zoya menangis dan bertanya pada dokter “mengapa itu tidak
mudah?” .. apa maksud mu?”. Zoya kembali berusaha untuk memisahkan tangan Yash
dan Puja, Dokter berkata pada Zoya “ Nyonya, tolong kendalikanlah diri mu”,
kemudian dokter meminta kepada petugas “singkirkanlah mayat-mayat itu”. Zoya
menangis dan mencoba untuk menghentikan mereka, ponselnya terjatuh tanpa ia
sadari, dalam keputus asaannya Zoya turun dari mobil ambulan dan bertanya-tanya
“tidak dapatkah memisahkan tangan mereka?” .., tapi mengapa?” .., mengapa
tangan mereka tidak bisa di pisahkan?” …, kenapa mereka tidak bisa
melakukannya?”. Zoya terkejut dan keluar dari lamuanannya setelah mendengar
dering ponselnya, Mahi memanggil., namun Zoya ragu saat akan menjawab panggilan
telepon dari Mahi, dengan terbata-bata Zoya menjawabnya “Halo”. Mahi tersenyum saat Zoya mengangkat dan berkata
“Zoya, dimana Yash?”.. aku sudah
menelponnya sejak pagi, tapi dia tidak mau meresponnya, aku berharap kau tidak
memberikannya jam malam, bahwa dia tidak bisa berbicara dengan ku atau juga
dengan ibu ku”. Zoya hanya terdiam Mahi berkata “Zoya.., aku berbicara dengan
mu, aku sangat khawati, katakanlah sesuatu.., Zoya, lakukanlah satu hal..,
serahkanlah telepon ke Yash sekarang juga”. Zoya ketakutan dan terdiam, Zoya
menangis dan berkata pada Mahi “Yash mengalami kecelakaan”. Maghi terkejut dan
mengulangi ucapan Zoya “kecelakaan?” .., kecelakaan!”.., apa yang sedang kau
katakana?” Zoya, siapa yang kecelakaan?”. Zoya menjatuhkan ponselnya dan Mahi
terus memanggil “ “Zoya.. jawab aku.. Zoya”. Namun Zoya berlari ke dalam rumah
sakit dan meninggalkan ponselnya yang terjatuh di luar dan suara Mahi masih
terdengan “Zoya, aku bertanya sesuatu padamu”. Seorang petugas polisi kemudian
mengamil ponsel milik Zoya dan berkata kepada Mahi “ Ya, nona.., ponsel ini
milik wanita yang sedang bersama mayat itu, aku berbicara dari rumah sakit St.
Marie, di Mussoorie”. Mahi terkejut dan mematikan sambungan telponya dan
memanggi ibunya, ia begitu sangat cemas.
Sementara itu di
rumah Zoya, Hosna sedang mencoba menelpon Zoya, ia menutup kembali gagang
teleponnya dan sangat cemas berkata “Ya tuhan, kasihailah, mengapa Zoya tidak
menjawab panggilan telepon dari ku ?” .. ada yang tidak beres, telepon Noor
juga di matikan dan cuaca juga berubah sangat cepat”. Hosna bertanya pada Wasim
yang sedang duduk di dekat jendela dan memandangi hujan “ apakah kau
mendengarkan aku?”. Wasim hanya terdiam saja, kemudian Hosna kembali
menyambungkan telepon lagi namun oprator menjelaskan bahwa nomer yang sedang di
hubungi telah di matikan. Hosna bertanya-tanya “ponsel Yash juga di matikan”.
Hosna kembali meletakan gagang telepon, ia berjalan menghampiri Wasim dalam
kecemasannya dan berkata pada Wasim “aku berfikir aku harus mengundang Yash dan
Zoya untuk makan malam pada hari jadi
mereka”. Waseem mengatakan pada Hosna “apakah sebelumnya kau pernah mengundang
mereka?”.. lalu bagaimana kita harrrus mengundang mereka sekarang?”. Wasim
duduk mengambil ponselnya, dan Hosna berkata pada Wasim “ aku ingin mengundang
mereka setiap tahun.., tapi aku selalu terdiam setiap tahun karena diri mu..
lalu apa yang harus aku lakukan?.., aku selalu menderita karena perjuangan
suami dan juga putrinya”.
Wassem tidak
peduli dengan Hosna dan hanya memperhatikan layar di ponselnya, Hosna
mendekatinya dan berkata “Waseem, sekarang sudah 5 tahun, tolong terimalah dia
sekarang”.., aku akan mengatakannya dan
aku sendiri yang akan memanggil
Yash, aku yakin dia akan segera datang dengan senang hati”. Waseem mengatakan
“Yash tidak akan pernah menjawab panggilan telepon ku”. Hosna bertanya
“bagaimana apanya?”. Wassem menjelaskan kepada Hosna “ maksud ku…, apakah
selama ini dia pernah menjawab panggilan telepon dari ku dan apakah sekarang
mungkin dia akan menjawabnya?”. Noor datang membuka pintu dengan sangat ketakutan “Ibu…”. Hosanna dan
Waseem menatap Noor, Noor memanggil ayah dan ibunya yang sedang bersama, Noor
mengatakan “ Ayah.., ibu…, Yash kecelakaan!”. Hosna dan Waseem pun terkejut setelah mendengar ucapan Noor.
Aditya akhirnya
sampai di rumah sakit dengan berjalan kaki, tubuhnya basah kuyub karena hujan
yang tidak kunjung reda, tatapan mata Aditya kosong, ia berjalan perlahan
memasuki koridor rumah sakit dengan langkah penuh ragu. Seorang petugas
bertanya “apakah kau tuan Aditya Hooda, kau sudah di panggil kedalam”. Petugas
bergegas pergi meninggalkan Aditya. Di ruang jenazah, para perawat sedang
mengusrus jasad Yash dan Puja, Yash datang ke ruang jenazah, dan Zoya pun
datang kesana ia bertemu dengan Aditya yang saat itu juga sama-sama akan
memasuki pintu ruangan jenazah. Zoya menghentikan langkah kakinya dan mereka bertatapan. Zoya dan
Aditya berdiri di depan pintu ruang Jenazah dan mereka terpaku menatap pada
jasad pasangan mereka masing-masing. Dokter datang untuk menghampiri mereka
berdua dan berkata kepada Aditya dan Zoya “ kami perlu melakukan otopsi pada
kedua mayat” .., setelah itu kalian bisa mengambilnya untuk melakukan ritual terakhir, aku telah
menemukan barang-barang pribadi mereka”.., kacamata, kalung dompet concin dsb,
cobalah untuk melihatnya”.
Dokter memberikan
barang pribadi Yash dan Puja kepada pasangan mereka masing-masing, Zoya dan
Adita mengambilnya mereka menangis memegangi barang milik pasanagn mereka, air
mata Zoya dan Aditya berlinangan mereka memegangi peninggalan barang pribadi
milik pasangan masing-masing. Zoya dan Aditya berbalik dan mereka saling
membelakangi satu sama lain, Zoya mengingat kebersamaannya bersama dengan Yash
ketika memilihkan kacamatanya dan ketika itu Zoya mengatkan bahwa suaminya
adalah orang yang paling tampan dari semuanya. Begitu juga dengan Aditya ia
juga mengingat saat kebersamaannya dengan Puja ketika saat itu mereka menikah,
Aditya memasangkan mangal sutra di leher puja dan Puja sangat menyukainya dan
bagi puja itu sangatlah berharga untuknya, puja pun kala itu berjanji pada
Aditya bahwa ia akan tetap memakai mangalsuta
sampai dirinya mati. Zoya dan Aditya menangis sedih mengingat pasangan
mereka masing-masing. Zoya duduk di kursi kemudian mengelurkan dompet dan
kacamata Yash dari plasitik pembungkus dan memeluk keuda barang itu sambil
menangis, begitu juga dengan Aditya ia menangis memegangi barang milik Puja di
tempat duduk yang lainnya.
Seorang petugas
rumah sakit / perawat pria datang menemui Aditya dan bertanya kepadanya “
permisi apakah kau putra dari hakim
Hooda ?”. aditya mengusap air matanya dan hanya terdiam. Ayah, ibu Aditya dan ibu puja telah tiba di rumah sakit dengan mengendarai
mobil, ibu Aditya turun dari mobilnya terlihat sangat cemas, begitu juga dengan
kecemasan ibu Puja. Tuan dan Nyona Hooda (ayah dan ibu Aditya) bertgegas masuk
ke dalam rumah sakit, dan ibu Puja berjalan bersama dengan keponakannya menyusl
di belakang mereka. Aditya hanya duduk terdiam, sementara itu ibu Aditya
(Anjana) berlari memanggil putranya “Adi!”.., Adi putra ku”. Aditya menatap
ayah dan ibunya. Anjana membentangkan tangannya dan meminta agar Aditya datang
untuk memeluknya, dengan penuh harapan Anjana melebarkan bentangan
tangannya, Adita bangun menatap ke arah
ibu Puja dan kemudian berjalan melewati ibunya dan menemui ibu mertuanya, ia
mengabaikan ibunya begitu saja, Anjana pun berlinangan air mata.
Nyonya dan tuan
Hooada berbalik menatap Aditya yang kala itu menemui ibu mertuanya, Aditya
tertunduk dan menujukkan barang pribadi milik Puja dan menyerahkannya, Aditya
mengatakan “Putri mu”. Ibu mertuanya pun menangis menatap barang pribadi milik
Puja, namun ia berbalik arah dan bergegas pergi dari sana. Aditya berjalan
namun Anjana memanggilnya “Puta ku Adi”. Aditya berrtanya “bagaimana kalian
bisa sampai bisa tahu ?”. anjana berkata pada Aditya “dari Id/ kartu identitas
milik puja.., Puja punya alamat rumah dan Pilisi menelpon kami dalam keadaan
darurat”. Aditya mengatakan “ mereka pasti memberitahu mu bahwa Puja mengalami
kecelakaan?” .., apakah mereka memberi tahu tentang situasi yang sedang
terjadi? Dan seperti apa itu”. Anjana tidak bisa menjelaskannya dan Adita mengatakan
“Bagus!”.., bahkan aku tidak perlu menjelaskannya, terima kasih tuhan!”. Aditya
bergegas pergi namun Anjana tetap memanggilnya “Adi”.., putra ku Adi,
dengarkanlah aku, apakah kau baik-baik saja?”. Adi berkata “baik?”., biar aku melihatnya.. beberapa waktu yang
lalu aku jadi tahu abhwa teman masa kecil ku adalah sahabat ku
dan juga istri yang sangat aku cintai dan ia curang terhadap diri ku” .., yaah
tentunya aku harus baik-baik saja, bagaimanakah aku seharusnya sekarang?”..,
bukannya aku harus baik-baik sajakan?” .., jadi aku baik-baik saja”. Tuan Hooda
menghampiri Aditya karena menyadari bahwa semua orang di rumah sakit sedang
memperhatikan, Aditya kembali bertanya pada Anjana “ aku seharusnya baik-baik
saja kan?”.
Tuan Hooda
berkata pada Aditya “Turunkanlah nada bicara mu, aditya.., kita sedang berada
di rumah sakit, dan banyak orang di
sekitar kita mereka akan tahu siapa kita, keluarga kita adalah keluarga yang
bergengsi ”.., aku sangat mengerti perasaan mu bahwa kau sangatlah kesakitan, tapi apaggunanya mengumumkan masalah kelyarga
kita?”. Aditya menggeleng dan berkata kepada ayahnya “Tidak tuan Hooad..,
tidak”.., kau tidak tahu, kau tidak akan
mengerti akan rasa sakit yang sedang ku alami”. Anjana mencoba untuk
menenangkan Aditya, namun Aditya berkata “faktanya kau tidak akan pernah mengerti apa yang
sedang aku alami, dantentang mengumumkan
tentang masalah keluarga kita
lalu apa yang perlu di khawatirkan?..,
semua orang ahli dirumah itu”. Anjana mengatakan “ adi tenagkanlah diri mu”. Aditya mengatakan
“tenang kata mu ?” .., aku tidak seperti diri mu, aku tidak tahu bagaimana
caranya bisa menjadi tenag dan tenang,
aku mencobanya tapi lihat apa yang telah terjadi?” .., bukankah kau tadi
bertanya apakah aku baik-baik saja?” .. apakah kau mengatakan kepada ku atau
apakah kau hanya mengatakan kepada ku agar aku menjadi baik-baik saja?” ..,
ketika kau merasa baik-baik saja, semua yang telah istri ku lakukan kepada ku
dia telah menghianati aku .., dia telah menipu ku, apakah aku harus merasa
baik-baik saja?” .., apakah aku harus mengabaikan semua ini dan kemudian
melanjutkan hidup ku?”. Aditya berkata kepada ayahnya “ dan kau tuan Hooda, kau haruslah bangga pada mentaru favorit mu/
kesayangan mu, dia telah mempertahankan tradisi di keluarga kita, dia telah
membuat mu sangat bangga, selamat” .
Aditya pergi
namun Anjana memanggilnya “Adi”. Tuan Hooada menghentikan Anjana dan berkata
“ tidak ada gunanya berbicara
dengannya”. Adi duduk diam di sebuah kursi disana, dokter datang menyapa “ Tuan
Hooada”. Tuan Hooda berbalik dan menghampiri dokter disana, Tuan Hooda
mengatakan pada dokter “aku ingin kau menyelesiakn prosedurnya sesegera
mungkin, aku ingin segera membawanya ke Mumbai” dokter meyakinkannya “ Tuan
Hooada, kau jangan Khawatir, itu akan
selesai”. Tuan Hooda berkata “tolong pastikan
jika media tidak mengatahui apapun, aku harap kau bisa mengerti”. Aditya
menatap ayahnya dengan penuh amarah dan Anjana merasa cemas. Tuan Hooada
berkata pada dokter “ aku mendnegar kau sedang mengumpulkan sumbangan untuk
bangsal penyakit kanker mu yang baru?”. Dokter hanya tersenyum dan mengangguk.
Aditya terdiam dan hanya memperhatikan du kejauhan.
Sementara itu,
Zoya masih menangis duduk sendirian dengan memegangi barang-barang pribadi
milik Yash, keluarganya datang. Hosna
bergegas berlari untuk menemuinya bersama dengan Noor, mereka mencemaskan
keadaan Zoya, Wassem hanya berdiri terdiam melihat putrinya, sementara Hosna
berbagi pelukan dengan Zoya dan iku menangis.
Diruangan
jenazah, Ibu Puja datang ke ruangan jenazah, ia menangis dan menadangi name
take di kaki puja, ia masuk keruangan jenazah bersama dengan adik dari Aditya
(Arjun). Arjun membuka penutup kain agar
ibunya Puja bisa melihat wajah putrinya untuk terakhir kalinya. Ibu Puja
berlinangan air mata saat mengingat kebersamaannya dengan Puja, saat itu Puja
marah dan bertanya dengan ibunya “ katakanlah pada ku apakah kau ini ibu ku ataukah kau ibu adi,
kau selalu saja berpihak kepdanya”. Saat itu ibu Puja berkata “ tentu saja aku
ini ibu mu, kau satu-satunya putri ku yang cantik, sedikit tempamental dan
emosional dan itulah Puja ku”. Ibu Puja berlianagan air mata dan memandangi
wajah Puja, dokter pun datang menemui mereka di ruangan jenazah dan berkata
“Permsi, kau tidak bisa menunggu disni, tubuhnya di simpan disni untuk
melakukan otopsi”. Arjun berkata kepada dokter “dia adalah ibunya, tolong
berikanlah kami waktu dua menit”. Dokter
merasa keberatan dan berkata “maafkan kami, kami mendapatkan pesan dari atasan
untuk meyelesaikan masalah ini dengan cepat”. Arjun menjadi marah dan berkata
kepada dokter “ apa yang kau maksud dengan menyelesaikan masalah ini?” ..
apakah ini cara untuk erbicara dengan seseorang?”. Dokter mengatakan “jangan
marah, kami hanya melakukan perintah dari atasan kami.., tolong, pergilah
sekarang” pria iru mengajak bibinya
untuk pergi meninggalkan ruang jenazah dan suster menutup kembali wajah pada
jasad Puja.
Tuan Hooda
berbicara pada istrinya Anjana “Tidak,
tidak aka nada seorang pun di Mumbai yang akan tahu tentang perselingkuhan
ini”… beritahu mereka tentang apapun, katakana pada mereka bahwa dia datang ke
Mussorie untuk melakukan beberapa
pekerjaan dan dai terlibat dalam
kecelakaan”. Anjana hanya terdiam, tuan Hooda bertanya “apakah kau mendengarkan
aku?”. Anjana mengangguk dan berkata “aku mendengarnya dan juga memahaminya,
Adi benar orang-orang di keluarga ini
punya pengalaman untuk menyembunyikan
hal-hal seperti ini”. Tuan Hooda terkejut dan menatap Anjana dan berkata
“Ya, jika waktunya telah tiba untuk
menggunakan pengalaman ini”. Anjana mengatakan “ tapi kali ini menyebabkan rasa sakit pada
putra ku dan aku tidak bisa mentoleris. Mengabaikan itu, itu bukkanlah
kesalhannya aku tidak bisa membiarkannya mendedita sama seerti aku Hrash”.. ,
aku bisa hidup dengan beban ini setiap
hari, tapi hidup dengan cara sepert ini bukanlah seperi meminum hidangan teh
pada semua orang setiap hari”. Anjana menangis dan Harsh pergi meninggalkannya.
Zoya duduk terdiam di depan aula rumah sakit,
keluarganya menemaninya. Hosna datang membawakan sebotol air mineral duduk di
sa,pingya, Hosna berkata pada Zoya “ Zoya putri ku, minumlah air ini”. Zoya hanya
diam terpaku, Noor datang dan menangis memperhatikan Zoya dan Wassem berdiri
dan terdiam. Hosna berusaha untuk membujuk Zoya “ tolong minumlah demi aku”.
Hosna menatap Wassem yang sejak tadi hanya berdiri saja, seorang pertugas medis
datang membawakan beberapa berkas ke hadapan Zoya dan Hosna. Petugas mendis
berkata “ Bukankah kau istri dari Yash Aurora, tolong tandatanganilah beberapa
dokumen rincian ini”. Wajah Hosna terlihat tegang, Wassem mengatakan pada Zoya “Iya
putri ku, tandatanani formulir itu, lalu kita akan pulang”. Zoya berfikir dan
berkata pada Wassem “ bagaimana aku
meninggalakannya dan pergi?”. Hosna memberikan isyarat pada Wassem dan berkata
[pada petugas medis “ayolah, aku akan ikut dengan mu”. Zoya hanya tertunduk dan
terdiam.
Sementara itu
adik dari Aditya (Arjun) datang menemui ibunya Puja dengan membawakan secangkir
minuman, Ibu Puja hanya terdiam duduk di bangku. Arjun berkata pada ibu Puja “Bibi,
minumlah air ini” dan kemudian meletakannya di sapingnya. Arjub berkata “Bibi,
kau harus pergi dan menemui Adi.., setelah Puja
kau adalah satu-satunya orang yang bisa berbicara dengannya”. Ibunya
berkata pada Arjun “Bagaimana aku bisa pergi mengadahdpinya?” .. apa yang telah
puja lakukan tidak akan pernah berubah, mengapa kau tidak pergi?”.. kau
adiknya, dia kan mendapatkan dukungan”. Arjun berkata pada Ibunya Puja “setelah
laporan otosi datang dan Puja tiba, maka
aku akan pergi”. Ibunya Puja bertanya pada Arjun “Apa perbedaan yang akan di
hasilkan setelah otopsi?.. apapun yang harus terjadi sudah terjadi”. Arjubn
berkata “ itu akan membuat perbedaan, bibi” .., apapunyang telah terjadi,
mengapa dan bagaimana itu bisa terjadi?”…, kita harus mengetahuinya”. Dokter datang
menemui mereka dan berkata “laporannya ada disini”. Arjun mengambil hasil laporan itu dari tangan
dokter dan segera membacanya, namun tuan Hooda (Harsh) datang merebutnya dari
tangan Arjun. Hars berkata pada dokter “aku berharap semuanya baik-baik saja?”.
Dokter mengangguk dan berkata pada Harsh “semuanya baik-baik saja tuan Hooda,
itu hanyalah kecelakaan biasa, itu saja, itu telah disebutkan dalam laporan
otopsi, kau bisa mengambil tubuhnya hari ini sendiri”. Hars bertanya-tanya “tubuh?”.
Arjun marah pada dokter “bagaimana kau bisa menyebutkan bahwa itu hanyalah
tubuh?” .., dia adalah kakak ipar ku dan dia adalah bagian dari keluarga ku,
lalu bagaimana kau bisa mempersiapkan laporan otopsi dengan begitu cepat?”..
apakah kau yakin bahwa itu hanyalah
kecelakaan biasa, itu saja”. Harsh mencoba mengendalikan amarah Arjun “Kendalikan/
kontrolah emosi mu”. Harsh berkata pada dokter “terima kasih, dokter”. Dokter bergegas
pergi dari sana.
Hars berkata pada
Arjun “kami akan ketinggalan penerbangan terakhir ke Mumbai, kita harus pulang
sekarang”. Arjun mengatakan pada Harsh “tapi ayah …”. Haes memerintahkan Arjun “bersiaplah untuk
pergi, buatlah persiapan untuk membawa kakak ipar tercinta mu pulang ke Mumbai”
. arjun hanya terdiam dan menganggu, Yash memintanya untuk segera pegi, Hrs
membaca isi dari laporan otopsi Puja, lali melirik ibunya puja yang sejak tadi
memperhatikan dan kemudian pergi ttanpa
berkata apapun. Kembali ke Zoya yang duduk di aula luar rumah sakit, Zoya masih
menangis sedih sedih setelah Yash pergi untuk selamanya. Wassem memperhatikan
Zoya yang sejak tadi terdiam dan menangis, lalu mengajaknya pergi, Wasim
berkata pada Zoya “Ikutlah dengan ku.., kemarilah “. Zoya mengatakan “Bagaimana aku akan
meinggalkan Yash dan pergi?” .., Bagimana aku akan..”. wassem mengatakan
pada Zoya “ Kau akan memeritahu ku bagaimana kau akan pergi meskipun kau tahu
dengan apa yang sudah terjadi?” .., dan bertanya-tanya kemanakah dia pergi
meninggalkan mu?” .., Hay Zoya Putri ku, aku bisa mengerti rasa sakit mu aku
bisa melihat bahwa kau sedang berduk, tetapi itu tidak berarti bahwa semuanya adalah salah, kebenarannya tidak
akan pernah berubah, Yash telah berselingkuh dan dia sudah menghianati mu”. Zoya
memohon pada Wassem “demi tuhan, jangan
mengatakan hal seperti itu, kumohon”.. bahkan kebohongan ketika di ulang tidak
akan pernah merubah menjadi kebenaran, aku menerima bahwa mereka saling
berpegangan tanga, tapi apakah itu
berarti Yash sudah curang pada ku?”.., aku sangat mengenalinya ayah, dia
tidak bisa melakukan ini pada ku.., apakah kau tahu dia telah memberitahu ku pagi ini betapa dia
sangat mencintai ku.., ini tidaklah mungkin”. Ayahnya berusaha untuk berbicara
pda Zoya, namun Zoya berkata pada Wassem “tolong dengarkan aku ayah..,
dengarkanlah aku.., Yash mempunyai
kebiasaan untuk memberitahu orang lain, bukankah kau tahu sifatnya kan?”..,
mungkin saja wanita itu memintanya untuk menumpang dan pada saat
kecelakaan dia pasti memegangi tangannya kerana takut”. Waseem berkata pada
Zoya “apa yang sedang kau katakana?” . zoya berkata “iya ayah” …, wanita itu
pasti sangat kesakitan dan mungkin saja suaminya akan menyiksanya, Wassem pergi
meninggalkan Zoya dan Zoya mengatakan “ dia pasti tidak merasa bahagia dengan
keluarganya”.., tapi apapun itu mungkin saja terjadi” Tanpa zoya sadari Aditya sejak tadi
mendengarkan pembicaraan antara Zoya dan ayahnya, kemudian Aditya datang
menemui Zoya dan berkatasaat Zoya berkata “ aku sedang memberi tahumu..,
mungkin saja suaminya akan menyiksanaya”. Aditya berdiri di belakang Zoya
dengan penuh amarah dan bertepuk tangan dan mengejutkan Zoya, Zoya berbalik dan
Adita mengatakan “tepuk tangan!”.., serius?”, harus ada tepuk tangan untuk mu”.
Zoya ketakutan menatap Aditya yang sedang marah di hadapannya, Aditya berkata
pada Zoya “ Suami mu tidak bersalah
kerena berusaha membatu seorang wanita
yang tidak berdaya, itulah mengapa mereka berpegangan tangan.., aku
adalah suami dari wanita miskin yang sedang tidak berdaya itu”. Zoya tersentak
kaget dan menatap Aditya, Aditya bertanya pada Zoya “apa yang sebenarknya
sedang kau pikirkan?” .., kau piker aku akan mengangkat tangan ku kepadanya?”
.., bahwa aku akan menyiksanya?” …, lihatlah itu, se;uruh keluarganya telah
datang untuk membawa pulang jasadnya
unrtuk terakhir kalinya, pemakamannya akan seperti sebuah ritual, tidak aka
nada yang salah dalam ritual itu”. Aditya menunjuk pada Arjun dan mengatakan
pada Zoya “ dia adalah adik laki-laki ku, dia tahu segalanya tentang dirinya,
tapi tidak ada yang berani untuk
mengatakan apapun yang buruk untuk kakak iparnya di depannya, suami yang sedang
kau bicarakan yang menurut mu di gunakan untuk menyalahgunakannya, dia
mengenalinya sejak dia berusia 12
tahun.., istri ku adalah teman masa
kecilku, sahabat ku!” .., dia mengatakan kepada ku bahwa dia akan pergi ke
Channai untuk sebuah pameran”. Zoya tersentak kaget, Aditya berjalan maju dan
Zoya melangkah mundur, Aditya berkata pada Zoya “aku pun juga yakin jika suami
mu juga berbohong, apa yang dia katakana kepada mu?”.. ada pertemuan?”..,
peretamuan yang sangat penting?”. Zoya terpojik sampai di mobil ambulan dan
Aditya berada di hadapannya, Aditya berkata pada Zoya “Bukalah mata mu dan
sadari bahwa pasangan kita sedang berselingkuh.., kenyataan yang sebennarnya
bahwa suami mu dan juga istri ku membodohi kau dan aku sambil
bersenang-senang satu sama lainnya”. Zoya meminta pada atidtya “tolong tenanglah..,
aku tidak kenal siapa istri mu dan
bahkan aku tidak ingin tahu, tapi aku tahu bagaimana dnegan Yash.., dia tidak
akan pernah bisa melakukan ini pada ku”. Aditya bertanya “Mau sampai kapan?”
.., sampai kapan kau akan terus berbohong pada diri mu sendiri?” .., sampai
kapan kau akan terus berpura-pura seolah tidak ada yang terjadi?” ..,
seolah-olah suami mu tidak bersalah.., tidak melakukan kesalahan apapun?” ..,
seolah-olah dia tidak menghianati mu .., seolah-olah dia tidak membohongi mu?”
.., sampai kaupan kau tidak setuju bahwa
dia telah menghanati mu?” .., setidaknya ada batasan untuk kebodohan!.., apakah
tuhan telah memberikan mu otak?”.. aku bahkan mengerti suami mu posti telah melakukan ini sebelumnya, kapapn
pun suami mu pulang dengan tanda lipstik .. entah kau selalu gagal untuk
melihatnya atau bahkan kau melihatnya,
kau merasa bahwa itu hanyalah milik mu, apakah kau tahu kenapa?” itu karena kau sangat bodoh.. kau bodoh dank
au pantas untuk menerima semua ini”. Zoya marah dan menapar Aditya, Zoya pun
menjadi syok.
Precap: Aditya
bertanya pada Mr. Huda jika dia tidak mengetahui bahwa dia meninggal. Adik Yash
memberitahu Zoya bahwa mereka akan membawa Yash ke Mumbai sekarang. Baik Aditya
dan Zoya bertabrakan di pesawat. Aditya melakukan ritual terakhir Pooja (dan Yash).
Dia menyatakan bahwa mereka beruntung dibakar bersama. Zoya menangis dari
kejauhan.

Comments
Post a Comment